+123 456 4444
Edukasi Seks, Tabu Atau Perlu?

Edukasi Seks, Tabu Atau Perlu?

Pada zaman sekarang ini banyak remaja yang terherumus dalam pergaulan yang melampaui batas-batas norma yang berlaku di masyarakat. Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin maju membuat setiap orang dengan mudahnya berkenalan dengan orang melalui media sosial. Masa remaja memang menjadi masa perkembangan manusia yang selalu ingin tahu dan mencoba hal-hal yang baru. Tahapan ini merupakan proses pencarian jati diri, yang sebenarnya juga dialami oleh semua orang.

Bersosialisai, bertemu dan bergaul dengan banyak orang memang hak setiap orang. Proses bersosialisai ini pula yang dapat memberikan pengalaman hidup. Namun tetap saja pergaulan yang terlalu bebas dan tidak mengindahkan norma serta aturan yang berlaku juga akan menjadi boomerang bagi diri sendiri. Perilaku-perilaku menyimpang yang sering kali didapat dari pergaulan yang salah seperti ketergantungan pada obat-obatan terlarang, berperilaku kriminal, serta sex bebas. Perhatian serta bimbingan dari orang tua dan keluargalah yang mampu membentengi anak dari pergaulan seperti itu.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,salah satu perilaku menyimpang akibat pergaulan bebas adalah sex bebas. Perilaku sex bebas selain bertentangan dengan norma agama dan sosial, namun juga menimbulkan konsekuensi yang besar. Seperti kehamilan diluar pernikahan, hingga tertular penyakit AIDS atau HIV. Penyakit berbahaya yang belum ditemukan obatnya ini, tidak hanya dapat merugikan diri sendiri namun juga orang lain.

Edukasi Seks, Tabu Atau Perlu?

Akhir tahun 2019 lalu, Media sosial twitter dihebohkan dengan unggahan dari sebuah akun bernama @CatGoldwynMyr yang mendapatkan cerita dari grup Facebook Yayasan Peduli Korban Bencana NTR-YPKBN. Cerita bermula ketika ada pasien perempuan yang ditanya oleh dokter di Yayasan tersebut, dan mengaku pernah melakukan hubungan badan dengan pacarnya. Alasan mengapa pasien perempuan tersebut mau berhubungan badan karena ingin membantu pacarnya yang sedang sakit. Laki-laki yang menjadi pacar perempuan tersebut mengaku sakit kelebihan darah putih sehingga harus dikeluarkan melalui hubungan badan. Tentu saja perempuan yang menjadi korban tidak mengetahui bahwasannya darah putih yang dimaksud adalah sperma. Berdasarkan cerita tersebut, benarkan sex bebas terjadi karena pergaulan yang tidak benar? Ataukah ada pengetahuan atau hal lain yang harusnya diberikan kepada remaja-remaja sekarang ini?

Edukasi seks

Pendidikan seks di Indonesia ini memang masih menjadi hal yang tabu. Pengetahuan terhadap perilaku seksualitas serta pemahaman untuk menjaga kesehatan organ seksual dianggap belum atau tidak pantas diberikan kepada anak-anak atau remaja. Ada sebagaian orang yang menganggap hal ini justru akan menjerumuskan anak kedalam pergaulan bebas. Menutup akses pengetahuan seks terhadap anak menjadi cara bagi kebanyakan orang tua untuk mencegah anak-anak mereka terhindar dari seks bebas. Walaupun sebenarnya cara tersebut justru akan menjadi boomerang ketika anak memasuki usia remaja dan memiliki rasa penasaran terhadap banyak hal,termasuk seks. Sehingga pemberian edukasi mengenai seksualitas yang benar perlu untuk dilakukan. Tentunya sejalan dengan aturan agama dan norma masyarakat.

Berikut adalah tahapan edukasi seks yang dapat diberikan oleh orang tua pad anak berdasarkan rentang usia:

  1. Usia 1-2 tahun

Pada tahapan ini anak mulai diberi tahu mengenai nama organ-organ intim. Penyebutannya pun juga harus dengan nama yang sebenarnya, seperti vagina dan penis. Hal ini karena sering kali orang tua mengganti kata untuk menunjukkan nama alat vital. Seperti kata “burung” dan lain sebagainya. Dari situlah anak mulai terbiasa dengan pembicaraan mengenai seksualitas.

  1. Usia 3-5 tahun

Setelah anak diberi pengetahuan mengenai nama-nama organ intim, selanjutnya adalah pemahaman mengenai organ atau area-area tubuh privasi. Anak diberikan pemahaman mana organ tubuh atau area tubuh yang orang lain tidak boleh sentuh. Pengetahuan ini juga dapat menjadi bekal anak terhindar dari pelecehan seksual, karena anak tahu mana bagian tubuhnya yang harus dijaga.

  1. Usia 5-8 tahun

Proses belajar selanjutnya adalah memberi pemahaman akan peran gender. Perlu diketahui bahwa gender dan seks atau alat kelamin merupakan dua hal yang berbeda. Seks lebih berkaitan dengan organ seksual sedang gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk oleh lingkungan sosial. Seperti perempuan sebagai sosok yang lembut dan emosional, sedangkan laki-laki adalah sosok yang kuat dan perkasa. Orang tua kemudian mengajarkan bagaimana menjadi perempuan dan laki-laki.

  1. Usia 8-12 tahun

Rentang usia ini merupakan rentang usia anak memasuki masa pubertas. Maka dari itu wajib bagi orang tua memberi pengetahuan mengenai pubertas dan perubahan yang terjadi dalam tubuh. Pembicaraan menganai hal ini alangkah baiknya jika diberikan oleh ayah kepada anak laki-lakinya. Begitu pula sebaliknya, oleh ibu kepada nak perempuannya.

  1. Usia diatas 12 tahun

Pada usia ini pendampingan orang tua sangat diperlukan. Meningkatkan intensitas bertukar crita dan pendapat menjadi salah satu cara agar anak lebih terbuka. Salah satunya mengenai persoalan seksual.