+123 456 4444
Literasi Media Sebagai Sarana Pengangkal Hoax

Literasi Media Sebagai Sarana Pengangkal Hoax

Wabah virus Corona yang melanda dunia saat ini, tidak hanya menghambat atau bahkan mematikan kegiatan masyarakat namun juga menimbulkan kewaspadaan dan kekhawatiran akan virus yang diduga berasal dari Wuhan, China tersebut. Ditengah keterbatasan dan ketidakpastian keadaan sosial saat ini, muncul beberapa oknum yang justru menyebarkan informasi-informasi tidak benar. Sebagaimana diberitakan detik.com Maret 2020, Polda Metro Jaya setidaknya telah menangani 43 kasus berita bohong dan 4 diantaranya telah ditangkap terkait berita virus Corona.

Berita bohong atau sering disebut dengan hoax, merupakan salah satu fenomena permasalahan yang banyak bermuncul sekarang ini. Globalisasi yang membuat dunia seakan tanpa sekat membuat hoax lebih cepat tersebar dan tersampaikan kebanyak orang. Dalam hal ini media sosial memiliki andil yang cukup besar atas permasalahan tersebut. Melalui smartphone, setiap orang dengan sangat mudah menulis apa saja di akun media sosial pribadinya dan membagikannya kebanyak orang.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memerangi berita palsu ini. Salah satunya yaitu dengan adanya dasar hukum Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE), yang dapat membawa pelaku penyebar berita bohong ke meja hijau. Tidak hanya itu, tahun 2017 pemerintah menggunakan teknologi bernama Cyber Drone 9 untuk melacak dan melakukan pemblokiran situ-situs online atau media sosial yang dinilai telah menyebarkan berita palsu. Kementrian Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia (KOMINFO)  juga membuka layanan aduan untuk masyarakat terkait berita hoax. Setiap orang dapat melapor dengan menyertakan tautan serta gambar mengenai berita bohong yang beredar ke alamat email aduankonten@mail.go.id

Namun langkah-langkah yang telah pemerintah tempuh tersebut tidak akan berhasil dengan sempurna, ketika masyarakatnya sendiri tidak berusaha untuk membekali diri dari ancaman berita hoax. Lalu bagaimana masyarakat seharusnya bersikap atas fenomena tersebut?

Literasi Media

Literasi Media Sebagai Sarana Pengangkal Hoax

“Membaca itu wajib dan penting”, mungkin banyak orang akan setuju dengan pernyataan tersebut. Namun tidak banyak orang mau menerapkannya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia. Data perpustakaan Indonesia memperlihatkan tahun 2017 frekuansi rata-rata orang Indonesia membaca buku yaitu tiga sampai empat kali dalam seminggu. Dalam kurun waktu satu tahun, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku dengan jumlah lima sampai sembilan buku. Study Most Littered Nation In the World 2016 melalui hasil surveinya juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Minat baca masyarakat Indonesi melalui penelitian tersebut berada di rangking 60 dari 61 negara.

Keengganan masyarakat untuk lebih banyak membaca dan mencari informasi inilah yang kemudian membuat hoax semakin banyak dan dipercaya. Berikut adalah beberapa hal yang harus diketahui oleh masyarakat guna membekali diri dari berita palsu:

  1. Perbedaan media sosial dan media online

Media sosial atau sering disingkat medsos adalah media yang digunakan untuk bersosialisasi berbasis daring atau online. Sehingga media sosial ini umum digunakan untuk bertukar kabar dengan orang lain. Sedang untuk media online sendiri merupakan platform atau situs penyedia informasi yang termasuk media baru atau new media dalam industri berita. Berdasarkan perbedaan tersebut maka, alangkah baiknya jika masyarakat membaca dan mencari informasi melalui media online dan bukan media sosial. Informasi dari media sosial dapat diproduksi oleh siapa saja, sehingga kebenaran beritanya juga tidak dapat dipertanggung jawabkan. Berbeda dengan media online yang sebagian merupakan milik perusahaan-perusahaan media besar di Indonesia. Media mainstream seperti kompas.com, detik.com, Liputan6.com, tirto.id, BBC dan masih banyak lainnya , bisa menjadi rujukan dalam mendapatkan informasi.

  1. Membaca dari banyak sumber

Meskipun telah membaca dari media-media yang secara kualitas dan kredibilitas dinilai baik. Alangkah baiknya jika mencari dan membaca sari sumber yang lain. Selain untuk mendapatkan lebih banyak informasi dan fakta yang sebenarnya, kegiatan ini juga dapat menjadi saran untuk mengoreksi benar tidaknya berita yang didapat. Jika banyak media memberitakan suatu peristiwa dengan fakta dan data yang sama, bisa dipastikan bahwa berita bersebut adalah benar.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memang tidak bisa dihalau atau pun dicegah. Hal itu karena kemajuan teknologi juga merupakan bagian dari kemajuan peradapan manusia itu sendiri. Tentunya kurang bijak untuk menghakimi kemunculan new media seperti media sosial dan media online sebagai faktor utama banyaknya berita bohong yang beredar dimasyarakat. Maka dari itu, kesadaran dari para pengguna internet atau masyarakatlah yang tentunya harus lebih lagi ditingkatkan.

Literasi media menjadi salah satu cara agar fenomena hoax tidak lagi menjadi suatu permasalahan seperti sekarang ini. Memilah dan memilih informasi yang didapat adalah hal kecil namun penting yang wajib dilakukan. Menambah pengetahuan mengenai situs-situs atau laman media online terpercaya dalam menyajikan berita menjadi cara lain untuk menaggulangi berita bohong ini.