+123 456 4444
Pendidikan Islam Antara Ritual Dan Sosial

Pendidikan Islam Antara Ritual Dan Sosial

Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Islam telah menjadi sumber acuan dalam menetapkan norma serta aturan masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Pemahaman masyarakat tentang ajaran Islam tidak dimengerti atau dipahami dalam waktu singkat, perlu waktu serta kesabaran dalam memberikan pemahaman tentang Islam. Proses ini tidak dapat terlepas dari peran pendakwah dalam memberikan informasi seputar keagamaan.

Penyiaran atau dakwah Islam seakan menjadi hal wajib dalam suatu masyarakat. Fenomena penyiaran Islam secara besar-besaran tersebut menjadi titik terang dan pengharapan masyarakat agar kehidupan dan ketenangan batin menjadi lebih baik. Segala upaya dilakukan dalam menciptakan masyarakat yang religius, seperti pembelajaram membaca Al-Qur’an, kajian rutin setiap bulan atau bahkan setiap minggu, ceramah-ceramah yang selalu mengingatkan masyarakat agar melaksanakan perintah agama, sampai pada pendidikan bagi generasi muda khususnya anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur’an.

Pembelajaran Islam seperi ini menjadi hal umum dihampir setiap masyarakat, namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana masyarakat memandang Islam dan perintah Tuhan. Hal ini menjadi perhatian khusus ketika banyak anggota masyarakat memiliki perilaku atau cara pandang yang bertolak belakang dengan ajaran Islam itu sendiri. Kehidupan masyarakat yang dapat dikatakan religius nyatanya belum mampu menyadarkan anggota masyarakatnya dalam berperilaku Islami. Rajin melaksanakan ibadah Sholat, namun memperlakukan orang lain dengan kurang baik. Tentu hal ini menjadi catatan merah dalam memahami Islam.

Secara garis besar kesalehan dibagi menjadi dua, yaitu kesalehan induvidu dan kesalehan sosial. Kesalehan individu juga sering disebut dengan kesalehan ritual, karena keimana atau kesalehan ini dilihat dari hubungan vertikal dengan Tuhan melalui kegiatan ritual, seperti sholat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Berbeda dengan kesalehan individu, kesalehan sosial adalah pemahaman atas keimanan seseorang yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hormat kepada orang lain, serta melestarikan alam sekitar menjadi beberapa contohnya. Kesalehan ini menjadi hal penting dan utama karena berhubungan langsung dengan kehidupan sosial masyarakat, yang menjadi lingkungan hidup manusia.

Rukun Islam dan Praktek Sosial

Pendidikan Islam Antara Ritual Dan Sosial

Rukun islam sebagai dasar atau tahapan ibadah kaum muslim menjadi pokok agama Islam yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pembelajarannya. Namun sering kali rukun islam ini hanya dipahami sebatas hafalan saja, yaitu 1) syahadat, la ilaha illa Allah, 2) sholat, 3) puasa, 4) zakat, 5) haji. Berikut adalah penjelasan sebagaimana termuat dalam Jurnal Sosioteknologi tahun 2014.

            Pertama, kalimat la ilaha illa Allah merupakan kalimat sakral yang menjadi tanda serta patokan seseorang telah memeluk agama Islam. Kalimat ini tentu saja tidak hanya sebatas ucapan verbal saja. Pembelajaran kalimat syahadat ini juga harus menyentuh amalan dalam kehidupan sehari-hari. Bersaksi bahwa Allah adalah esa, maka sama saja dengan menolak hal apapun yang bisa menjadi objek pengabdian.

            Kedua, sholat. Ibadah ritual ini merupakan ibadah wajib yang harus dilakukan umat muslim setiap harinya. Edukasi mengenai sholat kemudian tidak cukup berhenti dengan mengajari gerakan serta bacaan sholat saja, namun juga arti disetiap gerakan dan bacaannya. Sebagai contoh, keutamaan sholat berjamaah hendaknya dijelaskan tidak hanya karena pahalanya yang lebih banyak, namun juga sebagai sarana silaturahmi dan kesetaraan manusia.

            Ketiga, puasa. Ibadah ini wajib dilakukan ketika bulan Ramadhan tiba. Umat muslim diwajibkan untuk berpuasa satu bulan penuh. Pendidikan agama Islam baik itu di sekolah formal maupun nonformal, menjelaskan maksud dari ibadah puasa adalah untuk merasakan penderitaan orang yang miskin dan kelaparan. Tindak lanjut dari merasakan kelaparannya orang-orang miskin pun jarang sekali dijelaskan. Maka dari itu alangkah baiknya jika puasa juga dipahami sebagai ibadah dengan tujuan tidak hanya merasakan penderitaan orang miskin, namun sampai pada bagaimana membantu orang miskin tersebut.

            Keempat, zakat. Zakat yang sering dikeluarkan ketika akhir bulan Ramadhan ini juga kehilangan dimensi sosialnya. Zakat dipahami sebagai ibadah memberi satu tahun sekali, dan bukan untuk menciptakan kesadaran saling menolong. Oleh karena itu, pembelajaran agama akan lebih baik terlihat hasilnya ketika disampaikan tidak hanya dari sisi ritual, namun juga dari sisi pengamalan keseharian.

            Kelima, haji. Ibadah yang satu ini juga telah kehilangan dimensi sosialnya. Fenomena belakangan, ibadah yang mengharuskan umat  Islam pergi ke Mekkah dan Madinah ini justru terlihat sebagai ajang wisata atau bahkan status sosial. Gelar H yang disematkan di depan nama orang yang sudah melaksanakan ibadah ini, sering kali menjadi tanda akan keilmuan dan keimanan Islam yang baik. Ketika seseorang yang sudah berkali-kali melakukan ibada haji, namun diwaktu yang bersamaan tetangga sekitarnya hidup dalam kemiskinan. Tentunya ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengampu Pendidikan Islam, untuk meluruskan kembali pemahaman keislaman masyarakat agar tidak berfokus pada ibadah ritual. Namun juga lebih peduli pula dengan lingkungan sosialnya.