+123 456 4444
Pentingnya Pendidikan Dan Budaya Menulis

Pentingnya Pendidikan Dan Budaya Menulis

Pendidikan Indonesia saat ini memang masih berfokus pada nilai untuk pemahaman teori. Praktik untuk teori-teori tersebut sering kali terabaikan, salah satunya yaitu praktik menulis. Ditingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMA) juga minim sekali dengan kegiatan menulis. Tugas dan materi menulis belum tentu ada disetiap semester. Tugas untuk menulis pengalaman pribadi atau pengalaman berwisata contohnya. Tugas itu akan diberikan ketika guru sedang sibuk dengan kegiatan lain selain mengajar. Seakan tugas menulis akan diberikan hanya untuk selingan saja.  Dan imbas dari itu semua adalah ketika memasuki bangku perkuliahan. Mahasiswa yang terlebeli sebagai kaum intelektual pada kenyataannya juga belum begitu mampu dalam menciptakan karya tulis yang benar. Hanya sekedar untuk menyiapkan materi perkuliahan saja masih kelabakan

Seberapa seringkah Anda menulis?. Pertanyaan itulah yang sering ditanyakan oleh dosen kepada para mahasiswanya. Kebiasaan menulis dan menghasilkan karya memang belum menjadi budaya di Indonesia. Anak-anak muda khususnya mahasiswa sering kali memiliki berbagai alasan mengapa mereka enggan melalukan kegiatan literasi ini. Mulai dari malas, sampai tidak mengetahui bagaimana cara membuatnya. Untuk alasan yang pertama ini memang sedikit lebih susah untuk mengubahnya, karena berhubungan dengan mau tidaknya seseorang untuk menulis. Sedangkan untuk alasan kedua akan lebih banyak cara untuk mencari solusi penyelesaiannya.

Para pengajar, yang oleh para murid dijadikan sumber utama pengetahuan pun nampaknya masih enggan untuk membudayakan kebiasaan ini. Agus M. Irkham dalam bukunya “Gempa Literasi”, bercerita mengenai pengalamannya menjadi pemateri dalam suatu kegiatan literasi guru SMA pada juni 2011. Dari 50 peserta yang semuanya adalah guru Bahasa Indonesia, hanya 10 persen yang rajin menulis. Dan dari jumlah tersebut yang mengirim tulisannya ke media massa adalah 0 persen.

Berdasarkan penjelasaan di atas, dapat dipahami bahwa tidak hanya dari individunya saja yang membuat budaya menulis masih sangat minim di Indonesia. Sistem  Pendidikan serta para guru pengajarnya belum bisa menjadi pendorong atau penggerak kegiatan ini. Padahal jika diperhatikan lebih, menulis memiliki banyak sekali manfaat bagi perkembangan pemikiran anak. Kegiata menulis yang memerlukan banyak sumber sebagai pelengkap tulisan, akan membuat anak lebih kritis dalam melihat dan membaca keadaan sosial di sekitarnya. Melihat peristiwa dari banyak sisi juga menjadikan anak lebih bijak dan toleran dalam bersikap.

Menulis Asyik Menulis Baik

Lalu bagaimana caranya menulis yang baik dan benar? Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk lebih menumbuhkan minat menulis.

Pertama, Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka tidak ada cara lain kecuali dengan mencoba menulis. Memilih pembahasan atau tema yang menjadi minat dari si penulis menjadi hal yang penting untuk menghasilkan karya yang baik dan maksimal. Karena, pemilihan tema yang kurang disukai akan lebih sulit untuk tulisan itu dikembangkan. Para guru pun dapat menerapkan cara ini, yaitu dengan membebaskan tema tulisan kepada anak didiknya.

Kedua, Menghasilkan tulisan dalam bentuk non-fiksi, akan lebih mudah dikembangkan dan terfokus, apabila diawal pembahasan disajikan kasus atau kejadian nyata yang pernah terjadi di masyarakat. Hal ini bertujuan, selain memudahkan dalam penulisan juga untuk membuat orang merasa perlu membaca tulisan tersebut.

Ketiga, Mengumpulkan sebanyak-banyaknya data dan teori, juga dapat membuat tulisan menjadi beragam dan menarik. Namun, yang perlu diperhatikan dalam mengumpulkan data dan teori ini adalah sumber informasinya. Memilih sumber yang sudah teruji kebenarannya, tidak hanya menambah kevalidan tulisan. Namun, juga menambah kepercayaan pembaca mengenai kebenaran tulisan tersebut.

Keempat, lebih imajinatif. Walaupun jenis tulisan yang dibuat adalah non-fiksi, yang semua pembahasannya adalah berdasarkan data dan fakta. Namun, pada kenyataannya juga diperlukan adanya unsur imajinasi yang bagus. Seperti yang dikatakan oleh Ichwan Prasetya seorang jurnalis Solopos. Yang menurutnya dalam tulisan itu, semakin “liar” pemikiran, maka semakin bagus tulisan yang dihasilkan. Pemikiran “liar” dalam non-fiksi ini tidak serta merta tanpa dasar. Data, fakta, teori, dan argumentasi yang masuk akal dan meyakinkan , akan membuat pemikiran yang dikatakan “gila” tersebut diterima menjadi kebenaran.

Pentingnya Pendidikan Dan Budaya Menulis

Kelima, unsur lain yang juga membuat tulisan lebih menarik adalah mengenai pemilihan kata. Pemilihan kata yang tepat dan susunan bahasa yang baik akan membuat tulisan menjadi enak dibaca. Untuk yang satu ini memang tidak langsung begitu saja bisa. Faktor pengalamanlah yang akan membuat tulisan tersebut menjadi baik dan enak dibaca.

Keenam, sebab lain yang juga membuat orang enggan untuk menulis adalah karena kebiasaan membaca yang masih belum terbentuk. Sebab, membaca dan menulis adalah seperti proses produksi barang. Bahan-bahan bacaan akan diolah, yang kemudian akan menghasilkan produk tulisan yang bagus. Membaca tulisan hasil karya orang lain akan menambah pengetahuan dan juga meningkatkan kualitas tulisan.